Kamis, 11 Oktober 2012

Budaya Bersahaja :)


Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya. Ditambah lagi perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan terkutuk yang membuat harta yang kita miliki tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang dimiliki justru efektif menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta karena kita salah dalam menyikapinya.

Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian kita. Orang yang punya harta, kecenderungan untuk menjadi pecinta harta cenderung lebih besar. Makin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah ia kepada harta yang dimilikinya. Lebih dari itu, dalam posisi itu ingin pulalah ia untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamerkan. Ada yang pamer kendaraan, pamer rumah, pamer pakaian dan lain-lain. Sifat ini muncul karena, salah satunya, kita ini ingin kelihatan tampil lebih wah, lebih bermerek, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri sendiri.

Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih ringan. Karenanya, hati-hatilah saudaraku. Apalagi dalam kondisi ekonomi bangsa kita yang sedang terpuruk seperti saat ini. Kita harus benar-benar mengendalikan keinginan-keinginan kita jikalau ingin membeli suatu barang. Ingat, yang paling penting adalah bertanya pada diri apa yang paling bermamfaat dari barang yang kita beli tersebut. Buat pula skala prioritas, misalnya, haruskah membeli sepatu seharga 1 juta rupiah padahal keperluan kita hanya sebentuk sepatu olahraga. Apalagi di hadapan kita tersedia aneka pilihan harga, mulai dari yang 700 ribu, 400 ribu, 200 ribu, sampai yang 50 ribu rupiah. Mereknya pun beragam, tinggal dipilih mana kira-kira yang paling sesuai. Nah, kalau kita ada dalam posisi seperti ini, maka carilah sepatu yang paling tidak membuat kita sombong ketika memakainya, yang paling tidak menyiksa diri dalam merawatnya, dan yang paling bisa bermamfaat sesuai tujuan utama dari pembelian sepatu tersebut. Hati-hatilah, sebab yang biasa kita beli adalah mereknya, bukan awetnya, karena kalau terlalu awet pun akan bosan pula memakainya. Jangan pula tergesa-gesa, dan ketahuilah bahwa pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syaithan.

Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya" (QS. Al Israa [17]: 26-27). Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman, "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah yang demikian itu". (QS. Al Furqan [25] : 67)

Jelaslah kiranya bahwa sikap boros lebih dekat kepada perilaku syaithan, naudzubillaah. Karenanya, budaya bersahaja adalah salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal dan bermerek. Silahkan saja! Tapi ternyata kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita. Saya kira hikmah dari krisis ekonomi yang menimpa bangsa kita, salah satunya kita harus benar-benar mengendalikan keinginan kita. Tidak setiap keinginan harus dipenuhi. Karena jikalau kita ingin membeli sesuatu karena ingin dan senang, ketahuilah bahwa keinginan itu cepat berubah. Kalau kita membeli sesuatu karena suka, maka ketika melihat yang lebih bagus, akan hilanglah selera kita pada barang yang awalnya lebih bagus tadi. Belilah sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu! Perlukah saya beli barang ini? Matikah saya kalau tidak ada barang ini? Kalau tidak ada barang ini saya hancur tidak? Itulah yang harus selalu kita tanyakan ketika akan membeli suatu barang. Kalau saja kita masih bisa bertahan dengan barang lain yang lebih bersahaja, maka lebih bijak jika kita tidak melakukan pembelian.

Misalnya, ketika tersirat ingin membeli motor baru, tanyakan terlebih dahulu pada diri kita, perlukah kita membeli motor baru? Sudah wajibkah kita membelinya? Nah, ketika alasan pertanyaan tadi sudah logis dan dapat diterima akal sehat, maka kalau pun jadi membeli, pilihlah yang skalanya paling irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya. Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya. Cobalah renungkan, mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar? Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat tenaga, yakinlah! Makin kita bisa mengendalikan keinginan kita, insya Allah kita akan makin terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika keinginan tidak dapat kita kendalikan, maka pastilah kita akan disiksa oleh barang-barang kita sendiri. Kita akan disiksa oleh kendaraan kita dan disiksa oleh harta kita yang kita miliki. Rugi, sangat rugi orang yang memperturutkan hidupnya karena sesuatu yang dianggap keren atau bermerek.
Karenanya, biasakanlah untuk senantiasa bersahaja dalam setiap yang kita lakukan. Dan mudah-mudahan dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini, Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan.

Rabu, 10 Oktober 2012

Filosofi S U R V I V A L


Bumi ini sangatlah luas, pernahkah anda berpikir untuk menjelajahinya? :D
SURVIVAL merupakan suatu kondisi dimana survivor ( orang yang melakukan sesuatu untuk bertahan hidup ) berada pada keadaan darurat oleh karena suatu sebab.  Pengertian SURVIVAL sebenarnya sangat luas, tidak hanya terjadi di gunung atau di hutan saja juga tidak tergantung lamanya waktu yang mungkin diperlukan oleh survivor untuk terus bertahan hidup.  Misalnya saja pilot pesawat tempur meloncat terjun karena pesawatnya tertembak, untuk itu tindakannya dapat dikatakan sebagai SURVIVAL karena dia harus survive          ( bertahan hidup ).  Apapun, semua tindakan yang dilakukan untuk tetap hidup pada keadaan darurat disebut SURVIVAL.
Yang mesti disiapkan untuk menghadapi situasi SURVIVAL adalah :  dalam keadaan kondisi darurat, kesiapan fisik dan kekuatan mental merupakan kunci untuk berhasil atau tidaknya survivor bertahan untuk hidup.  Pada kondisi seperti ini, survivor dihadapkan pada dua pilihan : “bertahan untuk hidup atau mati” !?, musuh utama survivor adalah : perasaan panik.
Sering terjadi adanya suatu peristiwa yang seharusnya bisa dihindarkan malah berakhir dengan kematian.  Jika seseorang tersesat di gunung tanpa pengetahuan / skill mengenai teknik hidup di alam terbuka, khususnya penguasaan pengetahuan SURVIVAL besar kemungkinan ia akan menghadapi kepanikan, sehingga terjepit pada situasi kritis yang dapat membuatnya tidak bisa mempertahankan dirinya untuk tetap hidup.
SURVIVAL adalah kondisi yang lebih memerlukan kekuatan jiwa, hidup survivor tergantung pada dirinya sendiri, bukan dalam artian mengesampingkan Tuhan, karena kemampuan yang besar untuk tetap hidup akan mendorong survivor bertindak tenang dan sabar agar dapat keluar dari kemelut yang dialaminya.
Pada kondisi SURVIVAL, survivor akan dapat dihadapkan pada kondisi-kondisi yang membuatnya stress, antara lain : rasa takut, cemas, panas dan dingin, haus, lapar, sakit dan kelelahan, jenuh dan kesepian serta kurang tidur.

Yang pasti disaat kita mulai suka berkegiatan di alam terbuka, akan lebih baik  membekali diri terlebih dahulu  dengan pengetahuan atau keterampilan dasar mengenai teknik hidup di alam terbuka.  Dengan adanya penguasaan  pengetahuan yang kita kuasai khususnya pengusaan teknik SURVIVAL, hal itu akan bisa menambah keyakinan untuk bertahan hidup pada saat kita menghadapi problema tersebut.

Ada 8 ( delapan ) hal yang bisa mengatasi atau menolong sectoring pada saat mengalami / menghadapi kondisi SURVIVAL, a.l :

  1. Pelajari kesanggupan diri untuk selalu optimis.
  2. Bersiap diri unuk menghadapi tantangan dengan menerapkan semaksimal mungkin pengetahuan teknik SURVIVAL, buatlah prioritasnya.
  3. Tentukan tujuan-tujuan tertentu, misalnya : menetapkan tujuan, menyiapkan peralatan khususnya peralatan SURVIVAL / SURVIVAL KIT, cara memperoleh air dan makanan atau mengirim sinyal / tanda darurat.
  4. Hematlah makanan dan minuman yang ada, juga apa saja yang mungkin dipakai kelak.
  5. Kontrol rasa takut dan panik dengan segala keyakinan dan pastikan dengan penuh percaya diri.     
  6. Mengharapkan bantuan datang atau berusaha sendiri untuk keluar dari situasi itu, tetapi persiapkan fisik dan mental untuk menghadapi bahaya lain yang mungkin timbul.
  7. Tetaplah mencari kesibukan agar dapat membunuh rasa sepi dan takut.
  8. Jangan berteriak-teriak jika tidak perlu.

Tidak ada tingkatan dalam SURVIVAL, tetapi untuk penguasaan pengetahuan yang mendalam atau penguasaan keterampilan itu sangat dibutuhkan.
Misal ; menguasai membaca jejak, khususnya jejak binatang, mengenali ciri-ciri  tumbuhan yang bisa dimakan dan tumbuhan obat-obatan serta terampil membuat perapian,  membuat trap ( jebakan untuk binatang ), dsb.

Hambatan atau Tantangan yang dihadapi dilapangan.
Ada dua factor yang mempengaruhi hambatan dan tantangan dalam menhadapi SURVIVAL ini, yaitu :
Pertama, adalah factor bahaya Subjek ( Subjective Danger ) ini sifatnya intern, artinya bahaya yang mengancam akan datang dari diri sipelaku itu sendiri.
Kalau faktor ini tidak dipersiapkan dengan baik maka si pelaku akan terancam bahaya Subjek, artinya hal tersebut adalah kelalaian dari si manusianya sendiri. 
Faktor Kedua adalah bahaya Objek ( Objective Danger ), ini sifatnya Ekstern artinya bahaya yang mengancam akan datang dari alam itu sendiri / dari objek kegiatannya.  Bahaya itu misalnya, dengan secara tiba-tiba sipelaku diserang badai atau hujan deras, udara dingin yang extrim, kabut tebal, longsor dsb. Untuk factor Ekstern ini, kita bisa perhitungkan meskipun tidak semudah memperhitungkan faktor intern.

TINDAKAN MENGHADAPI SURVIVAL.
Kiat mempertahankan hidup pada saat menghadapi keadaan darurat              ( SURVIVAL), prioritas utamanya adalah :
1.    Tindakan P3K bila mendapat cedera apapun bentuknya.
2.    Membuat perapian dan menyiapkan perlengkapan untuk membuat tanda atau sinyal darurat.
3.    Memperoleh dan menghemat air.
4.    Membuat perlindungan terhadap ancaman yang disebabkan oleh cuaca dan gangguan binatang, mencari dan membangun shelter / bivaock alam     ( perlindungan darurat yang terbuat dari ranting dan daun-daunan ).
5.    Memperoleh dan menghemat makanan.
6.    Jika memang diperlukan, persiapkan perjalanan.

   
PENGAMBILAN KEPUTUSAN.
Satu hal yang juga ikut menentukan lamanya melakukan SURVIVAL adalah tindakan yang akan dilakukan.  Apakah kita akan menetap ( statis ) atau bergerak mencari jalan keluar ( dinamis ), yang masing-masing mempunyai keuntungan tersendiri,  Jika ingin keluar tentunya harus membutuhkan alat bantu, seperti peta dan kompas atau setidak-tidaknya pemahaman tentang daerah tersebut dan kemampuan bernavigasi dengan tanda-tanda alam.

Banyak pengalaman yang telah dialami dalam menghadapi kondisi yang tidak diharapkan dalam berkegiatan, dimana mau tidak mau harus melakukan SURVIVAL.  Dalam kegiatan petualangan di alam terbuka apapun bentuk kegiatannya, kita harus selalu berpegang pada prinsip, kita harus percaya pada pengetahuan / skill yang kita kuasai, pada alat yang kita bawa, percaya pada teman seperjalanan dan percaya pada Tuhan, melalui-Nya kita yakini bahwa Dia akan selalu melindungi kita pada saat kita mendapat kesulitan.

Selasa, 02 Oktober 2012

Bakat Istimewa


OKE berbicara mengenai bakat, menurutku setiap orang adalah individu yang unik. Setiap orang juga bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menemukan misi hidupnya masing-masing. Agar kita bisa berkontribusi maksimal, tentunya akan sangat baik bila kita bekerja di bidang yang paling sesuai dengan keunikan kita. Ibaratnya bisa menjadi ikan dalam air, atau burung di udara.
Belajar ataupun bekerja pada bidang-bidang yang diminati terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta yang sesuai, akan memberi semangat dalam mempelajari atau menjalaninya. Tapi seringkali kita memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan ikut teman-temannya, atau memilih bidang yang sedang popular, tanpa sempat mencerna terlebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari, menjadi apa setelah selesai sekolah ataupun lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan seperti apa yang akan digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut.
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa. Pada periode ini anak mencapai kematangan fisik dan diharapkan pula disertai dengan kematangan emosi dan perkembangan sosialnya. Karena masa peralihan maka remaja pada umumnya masih ragu-ragu akan perannya dan menimbulkan krisis identitas. Dalam usaha menemukan jati dirinya dalam arti mengatahui kebutuhan-kebutuhan pribadi serta tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya, maka pengembangan bakat dan minat remaja sangat penting. Dan dalam mengembangkan kompetensinya remaja tetap membutuhkan bimbingan dari orang tua dan lingkungan rumah maupun sekolah.
Mengembangkan bakat dan minat bertujuan agar seseorang belajar atau dikemudian hari bisa bekerja di bidang yang diminatinya dan sesuai dengan kemampuan serta bakat dan minat yang dimilikinya sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.
Berikut adalah pengertian bakat menurut para ahli, diantaranya adalah:
1.      Crow dan Crow : Bakat merupakan kualitas yang dimiliki  oleh semua orang dalam tingkat yang beragam.
2.   William B. Michael : bakat adalah kapasitas seseorang dalam melakukan tugas, yang sedikit sekali dipengaruhi atau tergantung dari latihan.
3.     Brigham : Bakat adalah kondisi, kualitas, atau sekumpulan kualitas yang dititik beratkan pada apa yang dapat dilakukan individu (segi performance/kinerja) setelah individu mendapat latihan.
4.   Woodworth dan Marquis : bakat adalah prestasi yang dapat diramalkan dan dapat diukur melalui tes khusus.
5.    Guilford : bakat adalah kemampuan kinerja yang mencakup dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual.

Bakat (aptitude) mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potensial ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus. Bakat berbeda dengan kemampuan (ability) yang mengandung makna sebagai daya untuk melakukan sesuatu sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Maka dapat disarikan bahwa bakat masih merupakan suatu potensi yang akan muncul setelah memperoleh pengembangan dan latihan, sedangkan kemampuan dan kapasitas sudah merupakan suatu tindakan yang dapat dilaksanakan atau akan dapat dilaksanakan.
Jadi, yang disebut dengan bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, baik yang bersifat umum maupun untuk bersifat khusus.

“Dengan bakat, seseorang berkemungkinan untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu. Tetapi untuk mewujudkan bakat kedalam suatu prestasi diperlukan latihan”.

Bakat bukanlah merupakan sifat tunggal, melainkan merupakam sekelompok sifat yang secara bertingkat membentuk bakat. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan. Sehingga mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang latent.
Bakat tidak terlepas dari yang namanya minat. Menurut John Holland, minat adalah aktivitas atau tugas-tugas yang membangkitkan perasaan ingin tahu, perhatian, dan memberi kesenangan atau kenikmatan. Minat dapat menjadi indikator dari kekuatan seseorang di area tertentu di mana dia akan termotivasi untuk mempelajarinya dan menunjukkan kinerja yang tinggi. Bakat akan sulit berkembang dengan baik apabila tidak diawali dengan adanya minat pada bidang yang akan ditekuni.
 
A.     Karakteristik Bakat
Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang  sebagai bawaan sejak lahir, sehingga:
·         Bakat adalah suatu bentuk kemampuan khusus, yang memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan dari hasil pelatihannya sampai satu tingkat lebih tinggi
·         Bakat merupakan potensi dan bukan sesuatu yang sudah benar-benar nyata dengan jelas. Bakat lebih sebagai kemungkinan yang masih harus diwujudkan
·         Bakat merupakan suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu melakukan suatu aktivitas dan tugas secara mudah dan sukses.

B.      Jenis-jenis Bakat Khusus
Bakat khusus atau talent adalah kemampuan bawaan yang berupa potensi khusus yang jika memperoleh kesempatan dengan baik untuk pengembangannya, akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu sesuai potensi tersebut.
Setidaknya ada lima jenis bakat khusus itu, baik yang masih berupa potensi ataupun yang sudah terwujud:
1.      Bakat akademik khusus
Misalnya: bakat untuk bekerja dalam angka-angka (numeric), logika, bahasa, dan sejenisnya.
2.      Bakat kreatif-produktif
Artinya bakat dalam menciptakan sesuatu yang baru, misalnya; menghasilkan rancangan arsitektur terbaru, teknologi terbaru, dan sejenisnya.
3.      Bakat seni
Misalnya: mampu mengarasemen musik dan sangat dikagumi, mampu menciptakan lagu hanya dalam waktu 30menit lengkap dengan syair dan notasinya, mampu melukis dengan sangat indah dalam waktu singkat,dll.
4.      Bakat sosial
Misalnya: sngat mahir dalam melakukan negosiasi, sangat mahir dalam menawarkan produk, sangat mahir dalam mencari koneksi, sangat mahir dalam berkomunikasi, dalam organisasi, sangat mahir dalam kepemimpinan, dll.
5.      Bakat kinestetik/psikomotorik
Misalnya memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang sepak bola, bulu tangkis, tenis, keterampilan teknik, dan sebagainya.

C.      Faktor-faktor yang memperngaruhi Perkembangan bakat
Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat khusus yang secara garis besar dapat dikelompokan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor dari dlam diri individu, diantaranya adalah:
1.      Minat
2.      Motif berprestasi
3.      Keberanian mengambil resiko
4.      Keuletan dalam menghadapi tantangan
5.      Kegigihan atau daya juang dalam mengatasi kesulitan yang timbul.
Adapun faktor eksternal yaitu yang berasal darilingkungan individu tumbuh dan berkembang, yaitu meliputi:
1.      Kesmpatan maksimal untuk mengembangkan diri
2.      Sarana dan prasaarana
3.      Dukungan dan dorongan orang tua/keluarga/teman
4.      Lingkungan tempat tinggal
5.      Pola asuh orang tua

D.     Mengenali dan Mengembangkan Bakat
Dari sebuah buku yang berjudul “Now, Discover Your Strengths” karya Marcus Buckingham. Setiap orang adalah individu yang unik. Setiap orang juga bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menemukan misi hidupnya masing-masing. Agar kita bisa berkontribusi maksimal, tentunya akan sangat baik bila kita bekerja di bidang yang paling sesuai dengan keunikan kita. Ibaratnya bisa menjadi ikan dalam air, atau burung di udara.
Mengenali bakat merupakan hal yang gampang-gampang susah. Kenalkah Anda dengan JK Rowling? Seorang penulis Harry Potter yang buku terakhirnya terjual 8.9 juta hanya dalam waktu semalam di Amerika dan Inggris saja. Semula dia kerja sebagai pelayan toko. Hidupnya susah karena pendapatan yang pas-pasan. Tak disangka dia ternyata berbakat mendongeng. Setiap malam dia mendongeng kepada anaknya, yang kemudian oleh anaknya diceritakan kembali kepada teman-temannya. Tak disangka, dari sanalah muncul motivasi menulis buku fiksi Harry Potter yang ternyata sukses luar biasa di pasaran.
Bagaimana kita bisa mengenali bakat kita sendiri?
Berikut ini empat hal yang bisa dijadikan dugaan awal terhadap apa bakat kita, yaitu : reaksi spontan, tanda masa kecil, cepat belajar, dan kepuasan.
Reaksi spontan
Langkah pertama mengenali bakat adalah memperhatikan reaksi spontan kita terhadap situasi yang muncul. MIsalnya Anda sedang berjalan-jalan di keramaian. Tiba-tiba ada teriakan keras, “Copeet…!” Apa reaksi Anda? Lari mengejar copet? Menghibur korban? Berdiri mematung menganalisa situasi? Bertanya-tanya ke beberapa orang, membuat konfirmasi atas kejadian sebenarnya? Semua itu adalah pilihan yang mungkin diambil. Manakah pilihan spontan Anda? Kalau Anda langsung bertindak, berarti Anda orang yang praktis dan desisif (membuat keputusan cepat). Pada satu situasi yang mendesak bakat mental seperti ini sangat berguna, karena Anda segera bertindak. Pada situasi yang lain, bakat ini justru merugikan, misalnya karena tidak melakukan konfirmasi maka bisa terjebak pada kesalahan penilaian. Bukankah bisa saja yang teriak “copeet..” itu ternyata adalah temannya si copet yang mengalihkan perhatian? Bisa saja ada orang lain yang kemudian menjadi salah sasaran Anda gebukin padahal dialah korban copet yang sesungguhnya.
Yang penting adalah, mengenali reaksi spontan kita. Apakah kita orang praktis? Apakah kita orang analitis? Apakah kita orang yang waspada (sehingga melakukan konfirmasi lebih dahulu)?
Contoh lain, misalnya Anda diajak datang ke sebuah pesta. Apakah Anda akan langsung berbaur dan mengobrol dengan orang lain, bahkan dengan orang yang baru Anda kenal? Ataukah Anda mengambil segelas minuman, lalu berdiri di pojok mengamati orang-orang lain? Atau Anda sibuk dengan ponsel Anda sendiri kirim-kirim SMS ke orang lain dan tidak peduli dengan pesta? Hal ini menunjukkan apakah pribadi Anda introvert (cenderung ke dalam) atau extrovert (cenderung ke luar).
Semua reaksi spontan Anda menunjukkan bakat mental yang sering disebut kepribadian.

Tanda masa kecil
Tanda masa kecil (yearnings) menunjukkan apa bakat natural Anda. Von Neumann, lahir di Hungaria tahun 1903, adalah perumus dasar-dasar komputer. Pada usia 6 tahun telah mampu menghitung pembagian 8 angka hanya di kepala. Pada usia 8 tahun dia sudah belajar kalkulus. Dia juga punya ingatan fotografik, cukup membaca sekilas buku telepon, dia bisa mengingatnya kembali dengan persis. Von Neumann menjadi peletak dasar-dasar komputer. Dia juga arsitek yang merancang bom atom Fat man, yang dijatuhkan di Nagasaki oleh tentara sekutu.
Anna Mary Robertson Moses lahir di pertanian dekat New York. Sejak kecil dia senang mencampur warna, dan membuat sketsa indah dari berbagai buah-buahan. Namun kehidupan pertanian membuatnya tak lagi melukis hingga 40 tahun lamanya. Pada usia 78 tahun barulah dia memiliki waktunya untuk melukis. Selama 23 tahun kemudian hingga saat kematiannya, Moses melukis ribuan karya, dan kemudian terkenal sebagai artis lukis Grandma Moses.
Apa ciri bakat kita saat masa kecil? Pada bidang apa karya Anda masa kecil diakui oleh lingkungan?

Cepat belajar
Cepat belajar (rapid learning/ fast learning) merupakan tanda bahwa Anda berbakat pada bidang tersebut. Terkadang kita sendiri tidak tahu, sampai suatu ketika mendapat kesempatan mempelajari hal baru, dan… blam! rasanya begitu mudah menguasainya.
Henri Matisse tidak pernah menyentuh kuas hingga usia 21 tahun. Pekerjaan sehari-hari adalah klerk seorang pengacara. Sampai suatu ketika dia sakit flu berat, sehingga harus istirahat di tempat tidur. Ibunya berusaha mencarikan kegiatan pengisi waktu. Saat itulah ibunya memberikan seperangkat kuas dan cat. Empat tahun berikutnya dia diterima sebagai mahasiswa berbakat di sekolah seni Paris.
JK Rowling, penulis Harry Potter, juga tidak menyadari punya bakat mendongeng hingga teman-teman anaknya menyatakan begitu menariknya kisah Harry Potter. Kini dia wanita kedua terkaya di Inggris, kalah hanya oleh Ratu Elizabeth.
Jim Clark, seorang dosen yang jenius namun hidupnya kacau balau hingga 2 kali perkawinannya hancur. Lulus SMA dia melamar sebagai tentara Navy. Prestasinya sebagai kelasi begitu buruk sehingga sering dibilang bodoh oleh para atasannya. Sampai suatu ketika salah seorang instrukturnya bilang sebaiknya dia kuliah saja, karena tampaknya dia punya bakat matematika. Dan benar, dia meraih PhD di Computer Science! Setelah itu dia menjadi dosen. namun kebiasaan buruknya yang sering mengabaikan keluarga membuatnya bercerai. Tahun 1978 dia juga dipecat dari New York Institute of technology karena membangkang. Tak dijelaskan bagaimana, dia bergabung ke Stanford University. Pada usia 38 tahun, Clark yang menderita depresi berat, tiba-tiba menemukan pencerahan. Ternyata kehidupan kacaunya itu dikarenakan dia terlalu kreatif sehingga selalu mencari hal baru. Clark terlalu banyak ide. Sejak itu dia mendirikan perusahaan bernilai milyaran dolar, mulai dari Silicon Graphic Inc. (SGI), Netscape (pembuat browser internet), hingga Healtheon (perusahaan medical di internet) yang semuanya sukses besar jual saham dalam IPO. Bakat Jim Clark adalah ide dan visinya.
Tentunya Anda juga ingat dengan Kolonel Sanders. Dia memulai bisnis ayam goreng di usia 66 tahun. Ternyata bisnis restoran adalah hal yang menarik dan mudah dia pelajari.
Kalau ada bidang yang Anda begitu cepat menguasainya, mungkin di situlah bakat Anda.

Kepuasan
Ciri-ciri kita berada di jalur yang benar adalah kalau kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan. Orang-orang yang sukses di berbagai bidang menunjukkan kepuasan terhadap pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu menghasilkan banyak uang maupun tidak. Kalau Anda senang melihat orang lain tumbuh karena bimbingan kita, maka Anda berbakat menajdi pembina/pendidik. Kalau Anda puas dengan menciptakan hal baru, yang unik dan beda, mungkin Anda berbakat menjadi kreator. Kalau Anda puas bisa traveling ke berbagai penjuru dunia, mungkin Anda berbakat menjadi explorer, seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah.
Seringkali yang membuat puas bukanlah sesuatu yang tampak secara fisik. Anda mungkin dosen, yang kadang suka kadang tidak dengan pekerjaan Anda. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Anda malas mengajar, tapi selalu tertarik dengan berita-berita riset terbaru. Jadi sebenarnya bakat Anda ada di riset, jadi bisa berada dimana saja, misalnya bergabung dengan grup riset di perusahaan besar. Seingat saya, Bondan Winarno adalah seorang pegawai maskapai penerbangan (atau di sekitar itu) yang melakukan banyak perjalanan ke luar negeri. Namun dia lebih dikenal sebagai kolumnis di majalah, yang menceritakan banyak pengalamannya saat pergi ke berbagai negara. Ternyata hobi dia yang lain adalah makanan (kuliner), bukan sebagai pembuat tapi sebagai penikmat makanan. Sekarang dia mengasuh rubrik kuliner di salah satu stasiun TV. Mungkin dia memang berbakat menjadi seorang explorer.
Apa saja yang membuat Anda puas?
Apapun kondisi dan pekerjaan Anda sekarang, tidak ada salahnya untuk terus mencari bakat terbaik kita. Kadang memang kita sendiri, entah kenapa, tidak peka dengan panggilan bakat kita. Tugas kita menemukannya, sampai kapanpun itu akan ditemukan. Seperti kata bijak dari timur, ” Setiap diri kita ini mempunyai misi, tugas kita adalah menemukan dan menjalaninya.”

            Cara lain untuk mengenali bakat bisa juga dengan cara:
·         1. Melalui pengalaman: Ketika mencoba hal tertentu,  ternyata mengalami banyak kemajuan.
·       2. Mengikuti test bakat, yang sekarang tersedia beberapa  test kemampuan / kecerdasan. Tes IQ, ESQ, Tes sidik jari jempol, tes serabut otot, dll.
3    3. Memadukan antara pengalaman dan tes bakat, kadang hasilnya lebih meyakinkan. 
      
      Semoga berhasil dan sukses yaa... :)